Resensi Novel : To Kill A Mockingbird
Penulis : Harper Lee, 1960
Penerjemah : Femmy Syahrani
Penerbit : Qanita
Cetakan : Edisi Gold Cetakan I, Oktober 2010
Tebal : 533 halaman
Tema : Tentang kasih sayang dan prasangka yang tidak hanya merugikan namun sekaligus berbahaya
Latar
Tokoh/Penokohan
Atticus Finch : Bijaksana, penyanyang, dan seorang egaliter sejati.
Jem Finch : Usil, dewasa, dan pendengar yang baik.
Scout Finch : Cerdas, kritis, selalu ingin tahu, manja dihadapan Atticus (ayah), tomboy di lingkungan bermain, tidak ragu untuk bertanya, dan melakukan kekerasan ketika tersudut.
Calpurnia : Pemarah dan bijaksana.
Dill Harris : Jenius.
Arthur Boo Radley : Misterius.
Kekurangan novel
- Tempat : Pemukiman tempat tinggal, sekolah, pengadilan
- Waktu : Pagi hingga malam
- Suasana : Menengangkan, menggebirkan, penuh dengan imajinasi
Tokoh/Penokohan
Atticus Finch : Bijaksana, penyanyang, dan seorang egaliter sejati.
Jem Finch : Usil, dewasa, dan pendengar yang baik.
Scout Finch : Cerdas, kritis, selalu ingin tahu, manja dihadapan Atticus (ayah), tomboy di lingkungan bermain, tidak ragu untuk bertanya, dan melakukan kekerasan ketika tersudut.
Calpurnia : Pemarah dan bijaksana.
Dill Harris : Jenius.
Arthur Boo Radley : Misterius.
Kekurangan novel
Karakter Scout memang
dibuat sedemikian cerdas dan kritis. Namun redaksi yang digunakan untuk
menuliskan narasi Scout terdengar terlalu dewasa untuk seorang anak sekolah
dasar.
Kelebihan Novel
Terletak di penokohan dan
narasi. Penulis menciptakan toko-tokoh yang terbilang banyak, namun dengan
fasih menceritakan karakter masing-masing tokoh lewat sudut pandang seorang
bocah bernama Scout Finch. Karakter-karakter yang tercipta sedemikian nyatanya,
karena merupakan gambaran dari lingkungan terdekat sang penulis. yang dia
lihat, dengar, dan rasakan secara jujur: bercerita tanpa motif tertentu, tanpa
kemunafikkan, kepalsuan, atau kebohongan.
Scout Finch, karakter utama novel ini
menjadi pisau tajam bagi Harper Lee untuk mengupas karakter-karakter lainnya.
Pemaparan deskriptif dalam sudut pandang khas anak kecil membuat cerita yang
sebenarnya bertemakan masalah sosial yang cukup berat menjadi terlampau cantik.
Harper Lee sukses mengangkat tema rasisme dalam narasi yang unik dan menarik.
Sering terdengar kocak dan lebih sering mengharukan.
Saya rasa, tokoh aku-lah
yang ‘berjasa’ untuk itu. Mockingbird sebagai frasa di judul novel, menjadi simbol
tentang innocence. Analogi bagi seorang yang tidak merugikan, tidak mengganggu
orang lain. Persis seperti mockingbird sejenis muraiyang hanya bersiul dan
bernyanyi tanpa mengganggu ketentraman lingkungan. Membunuh mockingbird (to
Kill a Mockingbird) adalah membunuh kebenaran.
Dalam berbagai resensi, ada dua
tokoh yang dianalogikan sebagai mockingbird, Tom Robinson dan Boo Radley.
Tentang mengapa dan bagaimana kaitan analogi tersebut, pembaca sendirilah yang
akan memahami. Secara keseluruhan, saya kagum dengan ketelitian Harper Lee
untuk menjaga kontinuitas dan relevansi antara judul, tema, dan gaya tutur
cerita dalam novel ini. To Kill a Mockingbird, novel tentang kasih sayang dan
prasangka, begitulah yang tertulis di muka buku. Cerita tigapuluhsatu bab
dengan banyak kejutan, namun lebih banyak lagi perenungan.
Sinopsis
Novel ini berkisah
tentang kehidupan keluarga Atticus Finch, seorang pengacara lokal di Maycomb
County. Atticus yang duda memiliki putra-putri,
Jem Finch (Jem) dan Jean Louise Finch (Scout). Mereka bertiga ditambah
pembantu, seorang Afro-Amerika bernama Calpurnia, tinggal di pemukiman tua di
pinggiran Alabama, Amerika Serikat.
Keluarga Atticus Finch adalah kehidupan
tipikal keluarga Amerika pada masa resesi Amerika di tahun 1930-an. Masa yang
dikenal sebagai Great Depression tersebut digambarkan menjadi keadaan yang
serba berkecukupan di Maycomb County, permukiman tempat tinggal Atticus
sekeluarga. Atticus ayah bijak yang terlampau menyayangi kedua anaknya, adalah
seorang egaliter sejati. Sebagai pengacara, dia tidak pernah membeda-bedakan
kasus yang akan dibelanya. Sebagai ayah, dia tidak pernah mendidik anak-anaknya
dengan keberpihakan. Jem adalah anak laki yang beranjak remaja. Meskipun sering
usil Jem selalu berusaha melindungi adiknya, Scout Finch. Jem berusaha menjadi
pria sesungguhnya dengan mencoba bersikap dewasa.
Bagi Scout, kenyataan bahwa
Jem mulai terlihat seperti ayahnya, adalah hal yang menyebalkan. Namun begitu,
Jem tetap menjadi teman bermain sekaligus tempat mengadu bagi Scout. Scout
Finch gadis cilik yang selalu ingin tahu. Bocah cerdas dan kritis yang selalu
bermaja-manja di hadapan Atticus, ayahnya. Selalu terlihat tomboy di lingkungan
bermainnya. Scout tidak pernah ragu untuk bertanya ini itu kepada siapapun yang
ditemuinya. Juga, dia tidak ragu untuk melakukan kekerasan ketika tersudut.
Atticus dan Calpurnia sering memarahi Scout akibat ulahnya. Jem dan Scout
selalu mendapat kesenangan baru pada musim panas, karena ada tokoh seperti Dill
Harris, bocah jenius sahabat Jem dan Scout.
Suatu saat Dill mengusulkan untuk
menyelidiki seorang Arthur ‘Boo’ Radley, tetangga yang terlihat misterius di
mata kanak-kanak mereka. Dill merasa perlu untuk memancing Boo Radley keluar
rumah. Terlebih, Boo adalah pemuda yang jarang sekali terlihat bersosialisasi.
Namun dalam kemisteriusannya Boo Radley sesungguhnya sedang ‘bermain-main’
dengan Jem, Scout, dan Dill. Namun, sejak Atticus memutuskan untuk menjadi
pengacara bagi seorang kulit hitam dalam sebuah kasus, kehidupan keluarga kecil
ini berubah. Kenapa? Perlu diingat, 1930-an adalah masa dimana Amerika
diselimuti racial segregation, rasisme kulit putih terhadap kulit hitam. Segala
aspek kehidupan mulai dari pelayanan masyarakat hingga fasilitas angkutan umum,
dibedakan peruntukkannya berdasar warna kulit. Jangan tanya tentang masalah
hukum.
Pada masa itu hukum yang paling pantas bagi orang kulit hitam adalah
hukum gantung, meski tanpa peradilan. Atticus ditunjuk oleh pengadilan untuk
membela seorang Afro-Amerika, Tom Robinson yang dituduh memperkosa seorang
wanita kulit putih. Atticus yang kulit putih ‘cari penyakit’ dengan menyetujui
membela seorang negro. Adalah Scout yang terkaget-kaget melihat kenyataan bahwa
ternyata kehidupan orang dewasa tidak melulu hitam-putih, baik-buruk. Scout belajar
banyak hal tentang kehidupan di luar dunianya. Untuk kali pertama Scout
menyadari ternyata ada kenyataan lain yang bernama kompromi. Ada kenyataan lain
yang berada di wilayah kelabu, grey area.
Comments
Post a Comment